Postingan

Menampilkan postingan dengan label Life Story

Some Thoughts Lately

For some time now, I'm feeling drained. I lost any sort of appetite for recognition — something I eagerly sought throughout the years. Partly due to the feeling of being left behind and the inability to keep up with all the trends and advancements. Or it's just because I am slowly aging and gradually losing more energy to polish my LinkedIn profile. I will turn 37 this August (insha Allah). I've been quite lazy recently to utilise my brain up to its optimal level. I just completed my reading of Kahneman's Noise ( which took me almost 2 years to complete ) and now am reluctantly reading more serious books — something that's not very typical of me. I've been developing a fascination towards more story-like books: novels, short stories, and other artistic literature . In particular, I have started reading Indonesian novels with marginal themes such as Orang-Orang Proyek . I found myself enjoying Animal Farm too. I don't know. Perhaps I need to try to...

8 Years and Counting

 Yangg, It feels like just yesterday, When our eyes met for the first time. Nope. Kidding. This 8 years have been a roller-coaster. This 8 years might not be what we pictured at the beginning, but they gave us so much more than we ever imagined. From that first sundae cup I gave it to you, to the tongue-dancing fried rice you made last night. Every breath we take, every fight we've fought Every eye-roll you gave me,  Every sigh I let out when looking your clothes cluttered about. It all just pulls us even closer. I can't imagine a single day without you. The Carpenters said: "I won't last a day without you". That might actually be true. Through all the headaches, debates and politics I endure at the office, you grace me with your smile. That lovely smile Through all our fights, however hard they get, a slick kiss always lands on my cheek, melting all the angers away. Now, with two sons joining us on this journey. I love you even more effortlessly, day by day. I co...

Shall I Say, Mission Accomplished (?)

Gambar
  This is unprecedented. Let's keep it this way until the last day of 2025. 

Home: After My Father Passed Away

Gambar
We have to endure eternal loss of my father You see, I don't have the luxury of coming home like everyone else does. I don't come home very often; that's the truth. But that doesn't make me less sentimental about my own home. As  Munthe   said, "Home is the place where I belong." Before my father passed away, home was the term I often associated with my mother's smile and her gentle kiss on my cheek. A smaller portion of "home" memory recall goes to my father's straight-but-secretly proud face. Never did I imagine I would be trembling and torn apart once I lost my father. I lost my father; we all lost him. I understand the pain my mother has to suffer after she lost her soulmate. It will never be the same. Even Boro the Cat feels sorrow I lost a figure I used to look up to. I no longer have someone I need to prove myself to. I don't hear "Well done, son" anymore, which used to soothe me and boost my self-esteem after I accomplis...

Trespassing.

I'm not justifying the way I behave. But again, I'm not a people pleaser by nature. Hence, on minor occasions, I have to act the way I used to act in order to preserve my own sanity. Life is hard already and your sanity could fly at any point of time. I intend to keep it that way, my routines. Most of the time, I do respect people and their own choice. I am terrible at putting myself in a confronting position toward other people. Oftentimes, I let my inner thought be oppressed to give space for others' perspectives. But again, people need to understand that I need my own space sometimes, just to recharge and restore my own idealism and thoughts. You cannot compare yourself to anyone as it could be very painful to swallow and I hate that, pretty much. Knowing everything runs differently at the moment, I am willing to accept and adapt. But again, I just need a tiny slice of my time to re-heal and re-assign all my stuff to the place they truly belong to. It takes only a couple...

A Midnight Complaint

I don't really care about all these 'sandwich generation' things I am suffering financially and mentally, yet I need to put my angel face in front of everyone pretending that there is no issue, pretending that life runs as usual I put everyone's expectations on my shoulder and my head every now and then Now I'm ready to explode I am no longer aware of what I do really want I have been too busy becoming a people pleaser On a night like this, with blacked eyes and a tired look in my face, I am screaming loud inside. Breaking all the silence a Thursday night could offer. I love my beloved ones but that seems not enough And I hate people laughing at something I could not afford for And I hate how people belittling anything, anything that my wallet could scream out loud I hate it But what can I do? Seems I have been trying to live by the standard beyond mine I am just tired I am sick of people laughing and smiling at things they put price tags on I just want to live as l...

Training a Classifier

Gambar
As I write this post, I have been waiting for the training process to be completed. It's still the first epoch but it feels like it is taking ages. Forgive me, by the time I uploaded this image, it has reached the 4th epoch.  The first epoch is yet to be concluded. The accuracy is somehow far from my expectation. Anyway, it's still on the first epoch, so things might be about to change. At this stage, I am surprised by how much a love-hate relationship is involved in training a classifier. You get excited when your result meets your expected threshold but most of the time, you are left disappointed.  But still, I cannot find any other things quite interesting to do. I love how data can transform into valuable insight. I love how to spot patterns out of so-called trash and raw data. But really, I am just too lazy to explore further and anticipate more options of workaround to improve the classifier's performance. Not to mention how intimidated I am to see the progress made b...

Perjalanan ke Inggris: Chapter 1 - Paperwork

Gambar
Image courtesy: Wikimedia Commons Alhamdulillah . Akhirnya tiba juga untuk berangkat studi ke Inggris setelah hampir setahun tertunda akibat pandemi. Meski pandeminya sendiri belum berakhir, Saya dan Istri memutuskan tidak akan mengajukan penundaan kembali. Dengan demikian, dimulailah perjalanan yang penuh tantangan, tawa dan air mata untuk sekedar menapaki jalan ke Inggris. Tulisan ini akan kami bagi menjadi beberapa part  untuk memudahkan pembaca mengambil nilai dan referensi. Hal ini didasari atas pengalaman Kami yang ternyata cukup kesulitan untuk mengkompilasi daftar persiapan-persiapan apa saja yang perlu diurus dalam memulai perjalanan ini. Silakan dinikmati dan dicermati. Kritik dan saran, juga pertanyaan, akan dengan senang hati kami terima.         Chapter 1: Paperwork       Dari hasil penelusuran Kami, banyak sekali berkas-berkas yang harus dipersiapkan untuk dapat memulai perjalanan ini secara tertib administrasi. Mulai dari pengu...

Unek-unek: 20 September 2021

Capek sekali ya disalahkan atas banyak hal. Mulai dari beli masker yang ga sesuai, booking hotel yang gabisa-bisa, hotel yang ga bagus, makanan haram yang terselip di menu, dll. Bukan tangan midas. Jadi apa-apa yang coba dikerjakan berbalik nyiprat  ke diri sendiri. Yang penting udah usaha maksimal, kalau masih ada kesalahan, memang itu murni keterbatasan diri. Harap maklumi. Tapi sama sekali ga ada niat bikin celaka, sengaja ngejatuhin atau apapun. Ya tapi kalau ditangkapnya lain, silakan. Berpasrah diri aja. Gabisa nulis di medsos gara2 terlalu rame. Mending ditulis di sini aja, lebih sepi. Ga bisa ngomong langsung juga, karena takut makan hati. Buat yang liat, anggap aja angin lalu, langsung skip ke lapak sebelah. Ditulis di sini sebagai penyaluran, biar bisa tetep waras. 20 September 2021

Udara di Kamar

Berkebalikan dengan Raja Midas yang meletakkan sakti pada tangannya, tangan hamba yang berjelaga debu dan minyak tanah menumpahkan segala hal yang hendak disentuhnya. Rasa iba dan kasihan yang menyeruak muntah lalu dimamah dengan cepat. Rasa sesak yang ditelan bulat-bulat menghempaskan napas yang berat dan tumpah di jalanan yang ramai dengan mobil yang berlalu-lalang. Serta evaporasi kenanaran yang menjuntai bergelantungan di langit yang biru namun mendung. Topeng keriangan yang pelan-pelan retak namun tetap tegar menempel pada muka yang hancur. Roda-roda tetap berputar, lampu-lampu tetap menyala. Serakan lara yang berantakan di atas aspal jalan yang dingin, diacuhkan seolah tak ada. Fenomena yang sama terus berulang ditutup oleh tirai-tirai pengampunan dan maaf yang memadamkan asapnya. Ruang-ruang dada yang kapalan, mata penat yang lesu dan berat. Topeng tetap dipakai walau retakannya kian lebar. Dipaksakan hingga entah kapan akan terjatuh berpencar. Bangunlah, demi pertunjukan yang s...

Kontemplasi dalam Kebiruan

Ya mungkin tiap orang berbeda jalannya. Apa yang saya rasakan sejak dulu adalah sakit karena selalu terkapar tersungkur dihantam kehidupan. Tapi biasanya bangkit lagi. Namun sudah beberapa tahun ini rasanya badan dan pikiran saya sudah tidak sekuat dulu lagi. Kadang kita terbebaskan sendiri dengan filosofi minimalisme yang kita anut. Tapi toh, kita tidak hidup sendiri. Saya tidak bisa memaksakan sendiri apa yang saya anggap benar kepada orang-orang di sekitar saya termasuk istri, anak, orang tua dan adik-adik saya. Dan pada titik inilah, mungkin titik di mana saya terhantam paling keras (setidaknya sampai detik saya menulis ini). Saya urung untuk bangkit, ingin berlama-lama merasakan sakit ini dan enggan untuk berdiri lagi. Saya terhantam oleh kenyataan yang keras bahwa saya tidak bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya dengan titel, gelar, atau apapun predikat yang dibebankan pada saya. Saya ingin pasrah saja dan mulai berekonsiliasi dengan diri saya sendiri. Saya bukan kebanya...

Why I Failed (on Youtube Now)

Gambar
So, here's my story. Jadi, gara-gara tugas PK kemarin yang banyak melibatkan pembuatan video, ternyata gua malah ketagihan untuk ngutak-ngatik seputar video-editing ini. Ya, masih amatiran sih sambil terus belajar. But hey, learning new things is always full of excitement.  Jadi, kali ini gua numpang di channel Youtube istri. Akhirnya, channel ini diberdayakan sebagai channel bersama dan gua sempet mikir sayang banget kalau cuma diisi video-video random  Fatih atau yang lainnya. Jadi, inilah kami, mencoba memberdayakan channel ini secara lebih rapi dengan membuat konten 'serius' pertama kami yakni Why I Failed Series. Gua sejujurnya terinspirasi banget dengan kesulitan yang gua hadapin ketika mencari resourceful insight  yang bisa gua jadikan acuan/referensi ketika ikutan seleksi rekrutmen karyawan/beasiswa. Kebanyakan dari video yang gua temui berisi success story  yang mengulas bagaimana si pemilik video berhasil melewati ujian, lulus seleksi beasiswa and so on so ...

I Don't Have to Put a Title for This, Do I?

Disclaimer: No secret in this following story. I don't even have time for writing properly. So, this post you are about to read, this is what it is. Readers discretion is advised. Jadi hari ini sebagaimana hari lainnya dari tanggal 21 September 2020, saya ikut PK. PK baru selesai, istri nelfon. Buru-buru langsung leave zoom meeting padahal Panitia baru ngucapin salam penutup, ngetik balesan di whatsapp web, dan buru-buru ngambil HP yg sedikit ngelag buat ngescroll ke atas nerima telfon. Begitu diangkat, dimatiin sama istri. Naruh hape lagi, ditelfon lagi sama istri, kali ini video call. Oke, accept video call. Muka istri udah ketekuk. saya lupa persis kalimatnya tapi kira2 begini dialognya. Istri (I): Kamu ngapain? Saya (S): Baru selesai PK I: Kok bisa ngepost? (mungkin dia liat postingan kelompok PK di instagram yang ada kolase foto-foto pserta, YANG PASTINYA ADA CEWENYA - I'm writing this on purpose ) S:Itu postingan tugas kelompok ( I didn't even write my own caption. I ...

Book Hunting at BookDepository

Gambar
So, I decided to read again after a long time It's not long before I turned my wife's computer on and started drowning myself in Amazon. Found one or two or three books that caught my attention but no further action was taken as they were extremely expensive (This was my first time looking for a book from a foreign online service and I was a little tight on my budget). I didn't expect that the shipping cost could be very influential in deciding which book to buy. Not to mention, the import tax imposed on foreign book purchase was not something I had anticipated earlier. That said, it didn't stop me from drowning myself deeper in the ocean of virtual bookstores. *** Phase One: The Purchase Story From the very beginning, I was not interested in searching for any recreational book. So, there would be no novels, fiction, comics, or even cooking books in my shopping cart.  At that moment, I was quite into data-related topics and therefore, data-related books are something I ...

Road to LPDP - Seleksi Administrasi (Part I)

Di tahap ini, seleksi akan dilakukan terhadap kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan oleh LPDP. Nah, karena saya memilih jalur targeted (PNS, TNI, POLRI) maka dokumen yang dipersyaratkan adalah sebagai berikut: 1. Ijazah (Asli/Legalisir) 2. Transkrip Nilai (Asli/Legalisir) 3. Surat Rekomendasi Atasan (Mengikuti Format LPDP) 4. Surat Izin dari Unit yang Membidangi SDM 5. Surat Usulan dari Unit setingkat Eselon II yang membidangi SDM 6. Surat Pernyataan Bermeterai 7. SK PNS Asli 8. Rencana Studi 9. Proposal Studi 10. Surat Sehat dari RS Pemerintah (Maksimal masa berlaku 6 bulan sejak penutupan pendaftaran) 11. Surat Keterangan Bebas Narkoba 12. Surat Keterangan Bebas TBC (Khusus tujuan Luar Negeri) 13. Sertifikat Bahasa Inggris Ok, mari kita bahas satu-satu. Ijazah dan Transkrip Nilai Ijazah dan transkrip nilai adalah dokumen yang sangat mendasar dipersyaratkan dalam tiap seleksi beasiswa manapun dan bertujuan untuk menjadi basis assessment kemampuan serta hist...

Road to LPDP 2019 - Pembukaan

Gambar
Sebenernya ini adalah kali kedua saya (mencoba) ikut untuk memenangkan beasiswa LPDP. Secara keseluruhan, ini adalah percobaan keempat saya setelah sebelumnya 3 kali mengalami kegagalan dalam percobaan memenangkan beasiswa pascasarjana. Saya sekali gagal di percobaan LPDP (2017) dan 2 kali gagal di percobaan Australia Awards Scholarship - AAS (2018,2019). Setelah kegagalan terakhir (AAS 2019 - bahkan gak masuk shorlisted candidate untuk Joint Selection Test/Interview), saya mulai mempertimbangkan opsi kuliah jenjang S2 dengan biaya sendiri. Intinya, jenjang pendidikan harus tetap berlanjut apapun caranya. Lalu,  Out of despair, I saw this announcement:  And the journey began... *** Di tahun 2019 ini, saya dihadapkan oleh satu lagi peluang Beasiswa dikarenakan LPDP membuka 2 batch dan beberapa jalur untuk seleksi beasiswanya. Saya sangat beruntung karena Tahapan seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP batch 2 2019 baru saja dibuka sebulan setelah saya menerima em...

Vacant Stare

Tomorrow will be my first day working in the new place I stare vacantly at my computer It's late already and I should have headed to bed two hours ago like staring around in a frozen room I couldn't feel anything but cold I had two sandwiches but it doesn't help I'm so tired and yet I can't sleep I stare vacantly I can't sleep. I should have bought my sleeping pills. It's so cold. I can't sleep.

Big Day

Tomorrow will be marked as another crucial point of my life. For the first time, I will pay a visit, not an ordinary one though It's extremely important It's going to be a big day I can't help myself freezing right now I am extremely nervous at the moment I don't want to ruin it So, I organize a detailed arrangement From selecting my best options in terms of outfit to determining the most reasonable route to her place I am spending my entire afternoon just to think possibilities and figure out ways to overcome them, just in case. I love her very much, much more than I love myself So, I want to make sure everything will run smoothly and the rest, Let Allah decides. Wish me luck, everyone. PS: Wina, I love you, darling. I love you so much.

Pagi ini

Pagi ini, ada orang-orang yang beradu mulut di pasar ada orang-orang yang duduk santai menyeruput kopi di tepi jalan ada orang-orang yang berkerumun di sekitar gerobak bubur ayam ada orang-orang yang berlari penuh peluh ada orang-orang yang menyerobot antrian minimarket ada orang-orang yang mempertanyakan harga barang yang mereka beli barusan ada orang-orang yang termangu menatap fondasi beton yang tak bergerak ada orang-orang yang menatap kosong ke arah bus-bus yang berlarian ada orang-orang berselimut sarung yang mungkin tak tahu apa yang ia akan kerjakan ada orang-orang yang terduduk di atas sepeda motornya, berburu harapan ada orang-orang yang kesal menunggu pengampunan ada orang-orang yang terjebak dalam obrolan dengan orang yang bahkan ia tak mengenalnya ada orang-orang yang bergelantungan di dalam bis transjakarta ada orang-orang yang bersiap-siap menumpahkan segala rencananya nanti malam ada orang-orang yang bercanda ria di dalam mobil yang terpaku di pinggir jal...

Random Sunday

Entah kenapa, minggu siang ini saya tidak bisa tidur seperti biasanya. Beberapa hari yang lalu, setelah membeli laybag, saya jadi malas untuk tidur-tiduran di kasur Jadilah hari ini, Minggu siang yang tenang ini, saya duduk-duduk malas di atas laybag Sambil senyum-senyum sendirian membaca histori chat saya dengan Wina. Wina, mungkin sedang istirahat juga di rumahnya. Dia terlalu lelah seharian kemarin jadi saya tak enak untuk mengganggunya siang ini. Mungkin juga sedang merasakan  quality time dengan keluarganya. Jadi, saya tahan dulu rasa kangennya, setidaknya sampai sore nanti mungkin. Dan well , kucing pemalas di depan kamar saya malah sudah lebih dulu jatuh tertidur. Jadilah saya sendirian di Minggu yang tenang ini. Ditemani godaan adik bungsu saya di ujung telepon beberapa menit lalu. Setelahnya, saya kembali tersenyum-senyum. Hahahahaa. Di tengah senyum-senyum sendiri yang random, saya menuju komputer dan mencoba melihat isi harddisk saya. saya baru sadar,...