Postingan

Menampilkan postingan dengan label Confession

Munajat

Aku ingin kita menjadi halal satu sama lain, berada dalam ikatan-Nya. Aku ingin mengukur wajahmu dengan teliti di tengah malam yang membangunkanku untuk menghadap Rabb kita Aku ingin mengecup keningmu dengan mesra sebelum kita jatuh pada lelap yang berbeda Aku ingin bercerita kepadamu mengenai banyak hal di kantor, di jalan, di televisi Aku ingin mengobrol denganmu di teras rumah hingga ayam mulai bersiap untuk menyanyikan pengumumannya Aku ingin menghabiskan malam minggu denganmu di atas sofa yang sama, menonton film dan menikmati kopi hangat kita Aku ingin memelukmu dan meminta maaf ketika kita bertengkar hebat Aku ingin menjemputmu di tempat kerjamu dan memulai perjalanan pulang ke rumah kita Aku ingin menjagamu ketika kau jatuh demam di tengah malam Aku ingin membangunkanmu pagi sekali untuk bersimpuh bersama di depan Rabb kita Aku ingin mencubit pipimu yang menggemaskan Aku ingin mendengar ceritamu tentang hari-hari yang melelahkan Aku ingin menyeka air matamu ketika...

A Brief Flashback

Jadi tadi malem masih browsing-browsing ceritanya pas ngeliat tab FB di browser, iseng-iseng lah kepikiran buat ngeliat timeline penasaran sebenernya kayak apa sih gua waktu masih awal-awal 20an dan hasilnya jadi bikin malu sendiri ternyata dulu gua update status sering banget ternyata banyak banget kata kasar di status gua ternyata banyak banget umpatan buat orang lain sampe-sampe semua kena sasaran kritik, gak terkecuali Tuhan *istighfar ternyata semua orang gak ada yang bener, cuma gua doang yang bener sehari bikin notes motivasi, besoknya bikin status caci maki ternyata gua tuh suka baca-baca epos revolusi yang anti-pemerintah gitu dan secara gak langsung berkontribusi  ngebikin kepribadian gua jadi meletup-letup gitu, jadi pemberontak parahnya, emang gua dari sononya udah emosian kali ya hahaha ya makin surem  dan gua baru nyadar sih orang-orang di lingkaran gua mungkin mulai jenuh sama perilaku gua gua nganggep gua cukup dewasa wak...

Denganmu

Denganmu, apapun selalu indah. Dari obrolan biasa tentang film dan lowongan kerja hingga obrolan tentang keluarga kita tak ada yang berubah kecuali dirimu yang kian matang caramu bercerita hingga tulisan 'hehee' itu yang akhirnya hadir kembali di depan mataku semua tak ada yang berubah Denganmu, semua terasa sederhana tak peduli betapa gelapnya awan di luar sana obrolan denganmu menjadikan langit-langit kamarku berwarna ada kesederhanaan yang kurindukan yang hadir bersamaan dengan seluruh ingatanku tentangmu yang muncul kembali Denganmu, aku punya tempat bercerita baru yang telah lama kusalurkan hanya pada orangtuaku aku tak tahu denganmu, tapi aku selalu ingin menghabiskan waktu denganmu tentu memang tak selalu bisa di tengah himpitan riuhnya ibukota dan rutinitasnya di tengah menanjaknya ghirahku untuk mengenal-Nya di tengah rasa malu dan khawatir mengganggu aktivitasmu Denganmu, aku tak perlu memulai dari awal kita sudah sama-sama tahu bagiku, kenyaman...

Menunggu

Ibu saya pernah berkata betapa saya begitu mirip dengan ayah saya. Dari ujung rambut, raut muka, hingga panjang kuku jari jempol kami bahkan benar-benar mirip Tak hanya itu, saya pun memang tak bisa mengelak untuk dibanding-bandingkan dengan ayah karena memang kenyataan bahwa saya terlahir sebagai anaknya, itu merupakan fakta absah Tapi, saya jelas tidak mirip dengan ayah soal cinta terkecuali soal respek kami yang tinggi terhadap perempuan Ayah saya begitu mencintai ibu saya secara nyata dengan perbuatan, tanpa lisan Sedangkan saya, saya lebih agresif dibanding ayah saya saya lebih agresif dalam lisan dan perbuatan, yang mungkin membuat jengah perempuan-perempuan yang saya dekati. Negatifnya, kadang saya lebih rapuh daripada ayah. Pengaruh hidup di tengah-tengah perempuan di keluarga saya, saya sadari saya menjelma menjadi laki-laki yang terlalu sensitif terlebih lagi, kebodohan saya yang acapkali kumat ketika saya jatuh cinta mengundang kritik keras, utamanya dari ibu s...