Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Sapi Perah

Kegiatan-kegiatan trivial yang mengenyampingkan esensi tugas pokok mulai menyeruak pelan-pelan. Ketika di-ingatkan, diberikan hentakan yang menyebutkan bahwa urusan tugas pokok bukan urusan. Cukup sakit hati mendengarnya setelah banting tulang berupaya memenuhi keinginan dan kebutuhan yang datang berhaluan. Ya memang harus mulai berdamai bahwa kita bekerja bagaikan sapi perah. Yang dimau hanya  uang yang bertebaran, peluh yang bercucuran bukan lagi hal yang harus dipikirkan. Ketika disampaikan, lemparan tuduhan menyakitkan tentang betapa rasa malu menjadi alasan utama peringatan disampaikan, mulai berhamburan. Sakit hati, lelah, tidak mampu memroses kata-kata lagi. Letih tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Terserahlah setelah ini. Tak 'kan ada larang-larang lagi.  Lakukan semaumu, tak ada yang menghalangi. Lakukan sesukamu, kami siap mendukung meski nanah tak teratapi.

Orang-Orang Proyek dan Harimau! Harimau!

Belakangan, saya ketagihan membaca novel-novel Indonesia lawas. Dua di antaranya adalah Orang-Orang Proyek-nya Ahmad Tohari dan Harimau! Harimau!-nya Mochtar Lubis. Dari substansi dan nuansa alur cerita jelas berbeda. Tetapi saya mencermati hal yang langsung menarik perhatian saya dari kedua novel tersebut. Ada kesamaan yang cukup linier jika dicermati. Pada Orang-Orang Proyek, Kabul, seorang insinyur puritan ( so-called ), mati-matian memertahankan idealismenya tentang proyek jembatan yang tepat guna dan berdampak nyata bagi penggunanya. Adalah Dalkijo yang memainkan peran antagonis sebagai atasan Kabul yang menekan Kabul untuk menggadaikan integritasnya dengan mengompromikan mutu proyek yang akan dikerjakan. [ Spoiler Alert! ] Kabul berakhir dengan mundur dari pekerjaannya dan harus menyaksikan hegemoni peresmian jembatan dengan mutu rendah yang penuh dengan kegiatan-kegiatan seremonial. Tak berapa lama setelahnya, jembatan yang dibangun tersebut memang tidak lagi dapat digunakan, se...