Postingan

Menampilkan postingan dengan label Brokenhearted

Home: After My Father Passed Away

Gambar
We have to endure eternal loss of my father You see, I don't have the luxury of coming home like everyone else does. I don't come home very often; that's the truth. But that doesn't make me less sentimental about my own home. As  Munthe   said, "Home is the place where I belong." Before my father passed away, home was the term I often associated with my mother's smile and her gentle kiss on my cheek. A smaller portion of "home" memory recall goes to my father's straight-but-secretly proud face. Never did I imagine I would be trembling and torn apart once I lost my father. I lost my father; we all lost him. I understand the pain my mother has to suffer after she lost her soulmate. It will never be the same. Even Boro the Cat feels sorrow I lost a figure I used to look up to. I no longer have someone I need to prove myself to. I don't hear "Well done, son" anymore, which used to soothe me and boost my self-esteem after I accomplis...

Sandwich Generation My Ass

I don't consider myself part of this hype: sandwich generation. How come I become part of this mass whining, pointing sandwich as the scapegoat and labelling all this pain with it. I don't have any sandwiches to feed. I'm broke as fuck. Yet, people around me like stacking their problems on my shoulder. My brain has to work harder than ever to find any other source of income as the existing one won't pay the bills. Ceremonies. Oh, that's the worse. It costs me a lot of money for crap nonsense. I cannot take this anymore. Living with debt I shouldn't have taken. Pile of debts to finance all the luxuries of Instagram stories. Crap! Somebody take me out of this rat race! Everyone smiles. Smile, you pain-in-the-arses! I'm reaching the bottom of my credit card's leftovers. I'm squeezing my fuckin' brain off for another coin. I'm broke haha! I'm fucking broke haha! Every single person still talks about money. About how expensive a bag is. About ...

Kontemplasi dalam Kebiruan

Ya mungkin tiap orang berbeda jalannya. Apa yang saya rasakan sejak dulu adalah sakit karena selalu terkapar tersungkur dihantam kehidupan. Tapi biasanya bangkit lagi. Namun sudah beberapa tahun ini rasanya badan dan pikiran saya sudah tidak sekuat dulu lagi. Kadang kita terbebaskan sendiri dengan filosofi minimalisme yang kita anut. Tapi toh, kita tidak hidup sendiri. Saya tidak bisa memaksakan sendiri apa yang saya anggap benar kepada orang-orang di sekitar saya termasuk istri, anak, orang tua dan adik-adik saya. Dan pada titik inilah, mungkin titik di mana saya terhantam paling keras (setidaknya sampai detik saya menulis ini). Saya urung untuk bangkit, ingin berlama-lama merasakan sakit ini dan enggan untuk berdiri lagi. Saya terhantam oleh kenyataan yang keras bahwa saya tidak bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya dengan titel, gelar, atau apapun predikat yang dibebankan pada saya. Saya ingin pasrah saja dan mulai berekonsiliasi dengan diri saya sendiri. Saya bukan kebanya...

Paradoks Kesepian

Gambar
Courtesy: statusmind.com Dulu gua beranggapan kalo istilah kesepian di tengah keramaian itu istilah yang aneh. Paradoks. Gimana mungkin bisa ada perasaan kesepian di tengah keramaian orang atau acara misalnya. Agak weird. Tapi, sadar atau nggak, makin tua umur, istilah yang mungkin gua anggap dulu aneh tiba-tiba jadi relevan dengan kekinian. And before you go any further I have to tell you this: No, it’s not about being single for a long time. Loneliness, as we know it, has broader meaning than  what most people think. Let’s turn back our memories to the time when we were, say, 17. my contemplation of life was started when I turned 17. Usia 17 adalah usia ketika gua baru lulus SMA dan mulai mikir gimana cari duit sendiri. Ada sensasi yang beda waktu itu. Ketika kebanyakan alumni lain gerilya ke tempat-tempat les buat persiapan SPMB (sekarang SNMPTN), gua yang udah dapet kampus waktu itu, menghabiskan sebagian besar waktu gua di rumah. Nonton tv. Main games. Jal...

Hoppipolla

Gambar
Minggu-minggu ini adalah minggu-minggu yang keras banyak ujian datang kepada saya seperti daftar yang tak memiliki catatan kaki entah kenapa tiap malam saya jadi suka merenung sendiri mewarisi kebiasaan ayah, yang juga suka tercenung sendiri di ruang tamu rumah memikirkan banyak hal tentang hal-hal yang harus dipikirkan Ibu saya menelpon dan berpesan untuk tidak berpikir terlalu keras untuk tidak mengkhawatirkan keadaan ini terlalu serius semua pasti akan berlalu dan menurut beliau, memang seharusnya begitu Ya, Ibu saya selalu jadi penerang ketika hari-hari saya gelap, Beliau selalu seperti itu dan saya tak berharap Beliau untuk menghentikan kebiasaannya mengkhawatirkan anak sulungnya yang merantau terlalu jauh Beberapa hal, membuat saya merasa tertekan menyempitkan dinding-dinding keceriaan yang mungkin akan menyamarkan senyum Beberapa hal, datang seolah menertawakan tapi ini seperti sudah menjadi rutinitas Saya kurang tidur selama dua malam. Bukan, bukan karena ...

Bdg 26 Mei 2010

Kelopak mata yang membuka dan menutup secara konsisten sepanjang malam air mata yang mengering di pipi dan daun bawah mata yang menghitam dalam semalam dikompensasi dengan pagi yang cerah dengan matahari yang terang menyengat ada perasaan aneh ketika itu pagi yang baru dan terasa aneh tanpa dia dan pagi itu langit-langit kamar tiba-tiba serasa rapuh matahari yang tersenyum tak tulus mendadak lumpuh tawa-tawa nan jenaka dari lingkungan-lingkungan yang terasa asing tawa dan canda menguap seolah kelucuan kehilangan nyawanya hari itu muram dan suram adalah aura hitam yang melengkapi pagi temaram dan burung-burung terhindar dari segala udara kotor di pagi hari tapi ada satu pria kehilangan jiwa pagi itu dan tak bisa mengobati bahkan bertahun-tahun setelahnya ada yang aneh ketika dunia mulai bangun dari peraduannya sinar terik yang menerpa wajah, indah tapi hambar tak ada rasa, begitu terik tapi tawar dan di pagi yang cerah itulah, segala rasa riang tercabut dari akar-ak...

Bdg 25 Mei 2010

25 Mei 2010 Hujan turun begitu tak sopan sedari jam 3 sore. Dan saya masih tercenung berpikir apa yang menjadi beban pikiran selama beberapa hari. dia, pulang ke jakarta selama 2 minggu dan kami benar-benar hilang komunikasi tapi entah kenapa perasaan saya mulai tak enak sepertinya sesuatu yang saya khawatirkan akan terjadi sebentar lagi hujan masih cukup deras dan perut sudah meronta minta diisi saya bergegas mengambil helm dan memakai jaket dua lapis untuk menahan dingin masih ada harapan setidaknya, bilamana mungkin saya akan bertemu dia di jalan sore itu, langit berubah menjadi gelap kebiru-biruan. mikrofon mesjid bergaung dan menimbulkan suara nyaring meski sayup motor saya sudah sampai di bundaran ketika saya tanpa sengaja mengenali sosok yang saya rindukan berjalan mengenakan sweater biru dongker tertawa bersama teman-temannya. itu dia. motor pun saya rem dan  menimbulkan suara yang tidak enak percikan air dari genangan membasahi trotoar di tepian saya m...

Monolog Penantian

Berhari-hari setelah email terakhir masuk ke inbox saya, tak ada balasan, tak berbekas sama sekali. Begitu pun lewat medium facebook, tak ada respon sama sekali. Mungkin ini jawaban yang wina beri dalam diamnya. Tak ada masalah. Toh, memang tak bagus juga untuk dipaksakan. Tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya. saya akan tetap menunggu. kecil memang kemungkinannya untuk berharap pada hadirnya mukjizat. saya bukan nabi dan malaikat yang memiliki keistimewaan magisnya sendiri-sendiri. Saya cuma pendosa biasa yang mungkin malaikat pun malas menghadapkan mukanya pada saya. Tapi, tak apa. Toh, karena hal-hal seperti ini sudah menjadi santapan biasa. Dan karenanya, saya sudah mulai terbiasa hidup dalam penantian seperti ini. Kalaulah usaha-usaha kemarin tersebut adalah kesempatan terakhir saya. Dan dia tetap menolak dalam diamnya. Saya akan coba terima dan pahami situasinya. Tak masalah dan saya dengan tulus berdoa semoga dia diberikan laki-laki terbaik untuk mendampi...

Menunggu

Ibu saya pernah berkata betapa saya begitu mirip dengan ayah saya. Dari ujung rambut, raut muka, hingga panjang kuku jari jempol kami bahkan benar-benar mirip Tak hanya itu, saya pun memang tak bisa mengelak untuk dibanding-bandingkan dengan ayah karena memang kenyataan bahwa saya terlahir sebagai anaknya, itu merupakan fakta absah Tapi, saya jelas tidak mirip dengan ayah soal cinta terkecuali soal respek kami yang tinggi terhadap perempuan Ayah saya begitu mencintai ibu saya secara nyata dengan perbuatan, tanpa lisan Sedangkan saya, saya lebih agresif dibanding ayah saya saya lebih agresif dalam lisan dan perbuatan, yang mungkin membuat jengah perempuan-perempuan yang saya dekati. Negatifnya, kadang saya lebih rapuh daripada ayah. Pengaruh hidup di tengah-tengah perempuan di keluarga saya, saya sadari saya menjelma menjadi laki-laki yang terlalu sensitif terlebih lagi, kebodohan saya yang acapkali kumat ketika saya jatuh cinta mengundang kritik keras, utamanya dari ibu s...

Ah, Realita. Ah, Kenyataan.

kemarin lusa, wina akhinya menyapa lewat email. Dia mungkin gak bisa liat, betapa saya terjingkrak-jingkrak tak percaya melihat namanya ada di inbox saya. mimpi apa saya semalam, kami cuma ngobrol sebentar. sudah lama saya sebenarnya ingin menyapa dia terlebih dahulu, tapi ada rasa waswas bahwa dia masih marah pada saya jadi saya urungkan niat itu, sampai datang email darinya kemarin saya pikir jalan untuk rekonsiliasi (baca: balikan) akan terbuka lebar Oleh karena itu, saya dengan tanpa pikir panjang segera mengirim email lagi padanya pada keesokan paginya saya cuma ingin minta nomor teleponnya. saya kurang beruntung. Entah karena alasan yang saya tidak tahu pasti saya tidak tahu apakah dia menerima, membaca atau mungkin tidak sempat membaca email tersebut atau mungkin membaca email tersebut tapi tak ada respon sama sekali mungkin saya yang terlalu kegeeran dan percaya diri bahwa masa indah yang dulu pernah saya alami akan terulang lagi mungkin dugaan saya salah, mun...