Orang-Orang Proyek dan Harimau! Harimau!

Belakangan, saya ketagihan membaca novel-novel Indonesia lawas. Dua di antaranya adalah Orang-Orang Proyek-nya Ahmad Tohari dan Harimau! Harimau!-nya Mochtar Lubis.

Dari substansi dan nuansa alur cerita jelas berbeda. Tetapi saya mencermati hal yang langsung menarik perhatian saya dari kedua novel tersebut. Ada kesamaan yang cukup linier jika dicermati.

Pada Orang-Orang Proyek, Kabul, seorang insinyur puritan (so-called), mati-matian memertahankan idealismenya tentang proyek jembatan yang tepat guna dan berdampak nyata bagi penggunanya. Adalah Dalkijo yang memainkan peran antagonis sebagai atasan Kabul yang menekan Kabul untuk menggadaikan integritasnya dengan mengompromikan mutu proyek yang akan dikerjakan. [Spoiler Alert!] Kabul berakhir dengan mundur dari pekerjaannya dan harus menyaksikan hegemoni peresmian jembatan dengan mutu rendah yang penuh dengan kegiatan-kegiatan seremonial. Tak berapa lama setelahnya, jembatan yang dibangun tersebut memang tidak lagi dapat digunakan, sesuai dengan dugaan dan perhitungan Kabul. Kabul menyaksikan proses akhir 'pembuktian' bahwa prinsipnya-lah yang 'menang'. Meskipun, dari kacamata Dalkijo, kemenangan itu boleh jadi adalah miliknya karena dia tetap mendapatkan proyek-proyek selanjutnya, menanggung penghasilan dan ceperan/objekan dari proyek-proyek yang Ia dapatkan berikutnya tanpa peduli mutu proyek-proyek yang diselesaikannya begitu melukai reputasinya sebagai insinyur.

In short, Kabul mendapatkan kemenangan atas keteguhannya memegang nilai-nilai yang ia yakini tanpa perlu menyaksikan detik-detik kehancuran jembatan yang ditinggalkannya.

Apa yang dialami Kabul, sedikit berbeda dengan yang dialami Buyung di Harimau! Harimau!

Meski relatif tak 'sesuci' Kabul, Buyung jelas menemukan kembali kebenaran setelah serangkaian peristiwa bertahan hidup yang ia lalui bersama tokoh antagonis utamanya: Wak Katok. Buyung, diceritakan masih sangat muda, melalui pergolakan batin yang timbul akibat tindakan asusila yang ia lakukan dengan seorang istri muda dukun tua bernama Wak Hitam, di saat ia memendam aspirasi untuk menikahi kekasih hatinya, Zaitun. Di antara kumpulannya yang berlumur dosa dan pergolakannya masing-masing, Buyung melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana nilai-nilai moral yang Ia serap dan pelajari dari tiap-tiap seniornya dalam kumpulan tersebut, dihancurkan dan diinjak-injak oleh Wak Katok itu sendiri, sosok yang Ia anggap sebagai guru dan mentor. Ketika nyawa dan hidupnya terancam dan berada di titik nadir, di saat itulah Ia mulai menyaksikan ganjaran atas kejahatan Wak Katok yang menjalar melalui media otonom: dirinya sendiri. Buyung menyaksikan bagaimana reputasi dan moral Wak Katok yang runtuh sebagai akibat, kalau boleh dikatakan demikian, dari akumulasi perbuatan bejat yang tidak disesalinya sedikit pun.

Buyung menyaksikan dendamnya terbalas, proses demi proses.




 




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untitled Project: Towards Ending

Hello World

Universalitas Karma